yayasan

MENGELOLA YAYASAN ISLAM
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ 

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur
seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

(QS 61:4, Ash Shaff)

yayasan adalah suatu perkumpulan atau organisasi yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan dan tidak mercari laba (nirlaba)
PENGERTIAN :

Sesuai dengan Undang-Undang RI No. 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan, definisi Yayasan adalah badan hukum yang terdiri atas kekayaan yang dipisahkan dan diperuntukkan untuk mencapai tujuan tertentu di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, yang tidak mempunyai anggota. Yayasan sebagai salah satu bentuk badan hukum adalah sangat penting sekali bagi organisasi Islam. Setiap lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau Non-Government Organization (NGO) Islam, misalnya: lembaga kemasjidan, da’wah, pendidikan, kajian, sosial, advokasi dan yang sejenisnya, perlu mendirikan Yayasan sebagai sarana formal dalam melakukan tindakan hukum para aktivisnya.

Ditinjau dari segi kepentingan organisasi, adanya Yayasan akan memberi manfaat yang cukup besar, di antaranya:

1.Mendapat perlindungan hukum berdasarkan undang-undang.
2.Memiliki kejelasan aturan organisasi yang tertuang dalam Anggaran Dasar.
3.Menambah rasa percaya diri para aktivisnya dalam berhubungan dengan pihak lain.

MENDIRIKAN YAYASAN :

Untuk mendirikan Yayasan Islam, diperlukan minimal seorang Pendiri. Dengan cara Seseorang atau beberapa Pendiri menghadap Notaris untuk mendapatkan Akta Notaris dengan menyertakan konsep akta pendirian Yayasan. Setelah dilakukan penyesuaian seperlunya terhadap peraturan perundang-undangan dan peraturan pemerintah yang berlaku, Notaris atas nama Pendiri mengajukan permohonan pengesahan akta tersebut ke pemerintah, dalam hal ini Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia. Dengan adanya pengesahan akta pendirian Yayasan oleh pemerintah, berarti Yayasan Islam tersebut telah memiliki landasan yang kuat sebagai badan hukum.

peraturan atau undang-undang yang menerangkan tentang pendirian Yayasan di Indonesia harus mengacu pada aturan-aturan yang terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan dan perubahannya dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 28 Tahun 2004 maupun peraturan pemerintah yang berkaitan dengan keduanya. Untuk itu, umat Islam yang bermaksud hendak mendirikan Yayasan Islam perlu melakukan segala sesuatunya dengan seksama, di antaranya:

1.Musyawarah pembentukan Yayasan.

Mengadakan musyawarah atau rapat pendirian Yayasan dengan mencatat dan memutuskan segala sesuatu yang diperlukan dalam pendirian Yayasan, antara lain:

a.Daftar hadir dan tandatangan peserta rapat.
b.Draft akta pendirian Yayasan atau minimal Anggaran Dasar-nya.
c.Data pribadi para calon Pendiri, Pembina, Pengawas dan Pengurus.
d.Jumlah kekayaan awal Yayasan.
e.Minutes of Meeting atau notulen rapat.

2.Draft Anggaran Dasar Yayasan.

Anggaran Dasar sangat penting bagi Yayasan Islam, karena merupakan jati diri Yayasan yang didirikan. Untuk itu perlu disusun dengan cermat dan disesuaikan dengan kriteria Anggaran Dasar organisasi Islam yang baik dan modern. Anggaran Dasar Yayasan Islam perlu memuat hal-hal sebagai berikut:

a.Nama dan tempat kedudukan.
b.Asas, Visi, Misi dan Nilai-nilai.
c.Maksud dan tujuan serta usaha-usaha yang akan dilakukan untuk mencapainya.
d.Jangka waktu pendirian.
e.Jumlah kekayaan awal dalam bentuk uang atau benda.
f.Cara memperoleh dan penggunaan kekayaan.
g.Tata cara pengangkatan, pemberhentian dan penggantian anggota Pembina, Pengurus dan Pengawas.
h.Kekuasaan, hak dan kewajiban anggota Pembina, Pengurus dan Pengawas.
i.Tata cara penyelenggaraan rapat organ Yayasan.
j.Ketentuan mengenai badan usaha dan tahun buku.
k.Ketentuan mengenai perubahan Anggaran Dasar.
l.Penggabungan dan pembubaran Yayasan.
m.Penggunaan kekayaan sisa likuidasi atau penyaluran kekayaan setelah pembubaran.
n.Susunan anggota Pembina, Pengurus dan Pengawas untuk pertama kali pendirian.

3.Mengajukan Draft Akta Yayasan atau Anggaran Dasar ke Notaris.

Mengutus seseorang atau beberapa orang Pendiri untuk menghadap Notaris guna mengajukan permohonan akta pendirian Yayasan dengan menyampaikan surat permohonan yang dilampiri dengan:

a.Hasil-hasil musyawarah atau rapat pendirian Yayasan.
b.Fotokopi KTP.
c.Surat Kuasa.
d.Draft Akta Yayasan atau Anggaran Dasar-nya dalam bentuk hard copy dan shoft copy.
e.Dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan.

4.Mengajukan pengesahan akta pendirian Yayasan.

Dilakukan dengan memberi kuasa kepada Notaris untuk mengurusnya ke Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia.

5.Menerima dan memastikan keabsahan (legalitas) akta pendirian Yayasan.

Menerima akta pendirian Yayasan dari Notaris yang sudah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, serta melakukan verifikasi keabsahan dari akta tersebut melalui pengumuman dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia.

STRATEGI YAYASAN :

Pada dasarnya strategi Yayasan Islam diharapkan dapat menyatukan seluruh rencana dan mengikat semua bagian menjadi terpadu. Untuk itu perlu menetapkan tujuan, visi, misi dan nilai-nilai yang akan dibudayakan dalam aktivitas Yayasan, dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang berkaitan dengan kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), kesempatan (Opportunity) dan ancaman (Threat). Setelah itu, perlu segera ditindaklanjuti dengan perencanaan secara kronologis-teoritis kemajuan Yayasan dengan mempertimbangkan faktor-faktor kesuksesan dalam bentuk profil aktivitas Yayasan.

I.Fase Penumbuhan.

Fase penumbuhan merupakan masa-masa dimana suatu Yayasan Islam mengawali keberadaannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam fase penumbuhan adalah:

a.Melengkapi pedoman Yayasan:
Yayasan perlu segera dilengkapi dengan pedoman-pedoman dasar organisasi, berupa: pedoman kepengurusan, pedoman administrasi, kesekretariatan dan protokoler, pedoman pengelolaan keuangan, pedoman pelatihan dan lain sebagainya.

b.Administrasi:
Adanya kantor sekretariat, kop surat, amplop, stempel dan alat-alat perkantoran lainnya. Juga selekasnya dilengkapi dengan alamat tetap (domisili), almari file, papan-papan kegiatan, mesin ketik, telephone, faximile, alamat e-mail, komputer, rekening Bank dan lain sebagainya. Tidak kalah pentingnya, adalah penerapan budaya administrasi yang baik dalam setiap aktivitas yang diselenggarakan.

c.Aktivitas.

Melakukan konsolidasi (penguatan), baik program, sumber daya maupun aktivitas. Langkah konsolidasi dimaksudkan agar Yayasan memiliki fondasi yang cukup kuat dalam melaksanakan misinya. Secara teknis, aktivitas Yayasan Islam dapat dikelompokkan dalam bentuk pelayanan, pelatihan, pengkajian, publikasi dan konsultasi da’wah Islam secara luas sesuai jenis usahanya. Masing-masing bentuk aktivitas tersebut disesuaikan dengan prioritas dan kemampuan Yayasan dalam menyelenggarakannya.

Untuk itu, Yayasan perlu menyusun Program Kerja periodik, penggalangan dana, mendirikan lembaga-lembaga underbouw, melakukan rekrutmen Relawan Yayasan (Volunteers), kerja sama dengan lembaga-lembaga lain, public relation yang intensif, pengadaan koleksi data dan informasi serta mengikutsertakan Yayasan dalam jaringan organisasi kemasyarakatan (ormas) dan LSM Islam.

II.Fase Pembinaan.

Merupakan fase pemantapan. Stabilitas kegiatan dijaga dan apa yang belum terlaksana dalam fase penumbuhan sebaiknya terwujud di sini.

Dalam fase ini, pemantapan organisasi maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM) Pengurus dan Volunteers-nya perlu ditingkatkan melalui kerja sama dengan berbagai organisasi lain, pelatihan, studi banding, kursus, kaderisasi dan lain sebagainya. Pendanaan Yayasan harus semakin dapat diandalkan dan dijamin kontnyuitasnya untuk menunjang keberlangsungan aktivitas yang diselenggarakan.

III.Fase Pengembangan.

Kerja sama baik lokal maupun nasional makin ditingkatkan serta membuat jaringan aktivitas yang lebih luas. Usaha-usaha profit oriented mulai ditumbuhkembangkan secara lebih serius dengan melakukan diversifikasi usaha. Diharapkan kemandirian Yayasan semakin mantap dan keberadaannya semakin diakui baik oleh organisasi-organisasi lokal maupun nasional.

PROGRAM KERJA YAYASAN :

Program Kerja Yayasan periodik yang dibuat oleh Dewan Pembina dijabarkan oleh Dewan Pengurus dalam bentuk Rencana Kerja dan Anggaran Pengelolaan (RKAP) tiap tahun. Untuk Yayasan yang telah berkembang, Program Kerja Yayasan diderivasi hingga RKAP lembaga-lembaga dan unit-unitnya. Masing-masing RKAP disusun dengan mempertimbangkan kemampuan dalam mengimplementasinya. Penentuan prioritas dan melangkah secara bertahap adalah lebih baik dari pada suatu lompatan besar untuk jatuh. Namun, hal ini bukan berarti Yayasan dan lembaga-lembaga maupun unit-unit underbouw-nya hanya jalan ditempat saja.

Yayasan Islam melakukan penyusunan Program Kerja berdasarkan pembidangan kerjanya, misalnya: Bidang Da’wah, Bidang Sosial, Bidang Pendidikan, Bidang Ekonomi dan lain sebagainya.

PENUTUP :

Kehadiran Yayasan Islam pada dasarnya dimaksudkan untuk mengaktualisasikan dan meningkatkan peran da’wah islamiyah di era yang telah dicanangkan umat Islam sedunia sebagai abad kebangkitan Islam. Agar dapat berperan secara optimal sesuai dengan yang diharapkan, maka Yayasan Islam perlu merumuskan dirinya dengan menetapkan tujuan, visi dan misi keberadaannya, serta cara-cara yang akan ditempuh dalam mencapainya. Dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman maupun faktor-faktor kesuksesan, segala posisi dan kondisi Yayasan dirumuskan agar dapat lebih terarah dan realistis. Selanjutnya apa yang telah ditetapkan dapat dimengerti, dipahami dan diimplementasikan dalam kerja-kerja amal shalih para aktivisnya..

Sumber: Institut Manajemen Masjid : http://www.immasjid.com
Versi Online : http://www.immasjid.com/?pilih=lihat&id=710

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: